Pages

Jumat, 17 Februari 2012

GERODONTOLOGY


1.       INSTABILITAS
Adanya instabilitas membuat seseorang berisiko untuk jatuh.  Ketidakstabilan yang seringkali menyebabkan jatuh terjadi karena adanya perubahan fisiologis ataupun patologis pada lansia. Perubahan fisiologis itu sendiri seperti terjadinya penurunan massa dan kekuatan otot terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu . Perubahan usia pada control postural dan gerakan berjalan memiliki peranan utama pada stabilitas orang tua. Bertambahnya usia terkait dengan berkurangnya input propioseptif, reflex yang lambat, berkurangnya kekuatan otot sangat penting dalam mempertahankan postur tubuh. Selain itu penyakit degenerative yang menyerang sendi (seperti pada leher, tulang belakang region lumbosacral, dan ekstremitas bawah) yang merupakan kondisi patologis terkait instabilitas juga dapat menyebabkan nyeri, kelemahan otot, ketidakstabilan sendi, dan gangguan neurologis.  Melemahnya otot sebagai akibat dari minimnya penggunaan otot (akibat nyeri atau kurang latihan) dapat mengakibatkan instabilitas saat berjalan dan berkurangnya kemampuan untuk kembali berdiri setelah hilang keseimbangan. Berkurangnya input sensori, seperti pada kondisi diabetes dan neuropati perifer, juga berpengaruh terhadap stabilitas seseorang (Kane, dkk., 2004).
Seperti yang telah disebutkan Hof dan Mobbs, stabilitas postural terkait integrasi antara saraf pusat dan muskuloskeletal. Berbagai macam input yang masuk diolah di dalam sistem saraf pusat sebagai respon terhadap perubahan internal dan eksternal. Proses ini dapat terganggu oleh berbagai kondisi, salah satunya penuaan. Dengan bertambahnya umur, akan terdapat  kemungkinan berkembangnya kelainan yang akan mempercepat degenerasi sistem saraf atau muskuloskeletal. Pada orang tua, gangguan keseimbangan kemungkinan terjadi karena adanya gangguan pada komponen sensorik dan/atau aparatus efektor atau sistem saraf pusat (Borah, dkk., 2007).

2.       GANGGUAN PENDENGARAN & PENGLIHATAN
Pada tahun 1994, 18 % orang yang telah berusia lanjut dewasa di AS yang berusia lebih dari 70 tahun dilaporkan mengalami gangguan penglihatan, 33 persen dilaporkan mengalami masalah pendengaran dan 9 persen dilaporkan mengalami kedua masalah tersebut. Hal tersebut kemungkinan besar dapat terjadi karena orang yang berusia lanjut hidup lebih lama dari kebanyakan orang, hal tersebut mengakibatkan beban hidup yang ditanggung juga lebih berat dan lebih lama. Hal tersebut berkaitan dengan ganguan sensorik di dalam tubuh. Hal ini mungkin bahwa kedua penglihatan dan kehilangan pendengaran merupakan konsekuensi reguler dari penuaan yang dapat menjelaskan mengapa hal tersebut sering terjadi pada individu yang sama. Faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kemunduran dari pendengaran dan penglihatan antara lain adalah faktor genetik, lingkungan dan gaya hidup, diabetes, paparan terhadap stres oksidatif (ketika sel-sel menerima terlalu banyak oksigen), merokok dan aterosklerosis.

3.       DEPRESI & STRESS
Pada orang tua, perasaan depresi dan marah dapat melemahkan sistem imun. Mereka rentan terhadap stress dan depresi. Stress menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis tubuh yang melemahkan sistem imun, dan akhirnya mempengaruhi kesehatan sehingga mudah terserang penyakit, serta timbulnya kelainan sistem imun dengan munculnya psoriasis dan eczema. Saat terjadi stress, maka hormon glukokortikoid dan kortisol memicu reaksi anti-inflammatory dalam sistem imun.
Studi lain yang dilakukan terhadap kesehatan lansia dengan stress menunjukkan level IL-6 atau interleukin-6 (suatu protein dalam kelompok cytokine) meningkat 4 kali lipat lebih cepat sehingga mereka rentan terhadap penyakit jantung, arthritis, dan sebagainya. Pada lansia pria, depresi dikaitkan dengan berkurangnya respons imun. Depresi ditimbulkan oleh rasa kesepian, enggan menceritakan masalah hidup yang dialami, dan cenderung memiliki teman dekat lebih sedikit daripada lansia wanita. Lansia pria mengalami ledakan hormon stress saat menghadapi tantangan dibandingkan dengan lansia wanita. Meskipun hubungan antara depresi dengan imunitas berbeda menurut gender, ternyata kombinasi marah dan stress yang dikaitkan dengan penurunan fungsi imun pada kedua kelompok lansia pria dan wanita tidak berbeda. Gangguan tidur pada orang tua dapat melemahkan sistem imun karena darah mengandung penurunan NKC (Natural Killer Sel). NKC adalah bagian dari sistem imun tubuh, jika kadarnya menurun dapat melemahkan imunitas sehingga rentan terhadap penyakit. Studi yang dilakukan di Pittsburgh tahun 1998 menunjukkan pentingnya tidur bagi orang tua untuk memelihara kesehatan tubuh.




4.       INFEKSI
Infeksi jamur berupa kandida (kandidiasis) dalam satu dasawarsa ini menunjukkan peningkatan, oleh karena bertambahnya penderita-penderita dengan gangguan kekebalan atau daya tahan tubuh yang menurun.
Infeksi jamur berupa kandida (kandidiasis) dalam satu dasawarsa ini menunjukkan peningkatan, oleh karena bertambahnya penderita-penderita dengan gangguan kekebalan atau daya tahan tubuh yang menurun.
Sebenarnya jamur ini merupakan organisme yang normal didapati di saluran cerna, tetapi pada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun maka jamur ini dapat menyebabkan infeksi, yang disebut juga sebagai infeksi oportunistik
Infeksi jamur kandida ini lebih sering terjadi pada lansia karena daya tahan tubuh yang menurun, penyakit kencing manis (diabetes melitus/DM), lebih sering menggunakan obat antibiotik, memakai obat kortikosteroid yang dihirup misalnya memakai obat triamcinolone pada penderita penyakit asma, penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) seperti bronkhitis, mulut kering (xerostomia) yang dapat disebabkan penyakit dan obat,  memakai alat-alat untuk membantu pemberian makanan, penggunaan alat-alat yang harus dimasukkan ke dalam tubuh di dalam ruang rawat intensif, kurang gizi, penyinaran dengan sinar rontgen dan lain-lain.
Selain daripada itu, pada lansia lebih sering pula mengalami transplantasi atau pencangkokan organ-organ vital tubuh, mendapat pengobatan dengan khemoterapi untuk penyakit kanker secara agresif, serta mengalami penyakit-penyakit kulit dan tulang, yang kesemuanya ini sering menggunakan obat-obat yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.      
Infeksi kandida juga menyebabkan tingginya angka kesakitan bagi lansia. karena  pemakaian obat-obat tertentu, perawatan diri yang kurang baik, dan berkurangnya produksi air ludah, yang kesemuanya hal ini sering terjadi pada lansia. Oleh karena itu, infeksi jamur kandida merupakan suatu masalah yang perlu dipertimbangkan pada lansia, mengingat seringnya terjadi infeksi ini.

5.       INANIATION
Seorang lanjut usia selalu dalam keadaaan resiko malnutrisi karena terjadi penurunan asupan makanan karena adanya perubahan fungsi usus, metabolisme yang tidak efektif, kegagalan homeostasis dan efek utilisasi nutrien. Keadaaan tersebut diperbeerat dengan ko-insidensi dari penyakit akut ata kronik, trauma, keadaan hiperkatabolik, infeksi dan terapi obat yang dapat mengubah kehidupan nutrisi. Banyak faktor bisa menyebabkan deteorasi status gizi yang menyebabkan kegagalan perbaikan jaringan dan fungsi kekeabalan sehingga dari keadaan tersebut menjadi sulit atau tidak mungkin terjadi. Tujuan hidup manusia adalah menjadi tua tetapi hidup sehat usehingga dalam keadaan patologikpun dicoba untuk disembuhkan ntuk memepertahankan healthy aging karena proses patologik memepercepat penderita meninggal dunia.
Perubahan-perubahan terkait umur yang memepengaruhi keadaan gizi seorang lansia adalah sebagai berikut :
a.       Bertambahnya usia akan terjadi banyak perubahan komposisi tubuh yang memepengaruhi kebutuhan nutrisi seorang lansia. Setelah berusia 60 tahun atau lebih berat badan cenderung turun dan untuk mempertahankannya semakin sulit dengan bertambahnya usia. Perubahan komposisi tubuh dicirikan dengan kehilangan secara progresif lean body mass, peningkatan relatif massa lemak dan redistribusi lemak dari perifer ke lokasi sentral tubuh. Kehilangan lean body mass yang berlanjut berhubungan dengan peningkatan prevalensi peyakit kronik pada lansia. Kehilangan lean bosy mass terutama terdiri dari otot skeletal terutama tipe  II atau serat fast-twich. Lean body mass sentral misalnya hepar dan lien relatif dipertahankan. Kehilangan masa otot yang terkait dengan usia tampak sebagai hasil dari faktor-faktor yang berhubungan meliputi perubahan metabolisme, fungsi struktur jaringan organ, penyakit-penyakit dan pilihan tingkah laku serta cara hidup secara individual.
b.      Perubahan nafsu makan dan regulasi ambilan energi
Memepertahankan berat badan yang stabil pada usia tua membutuhkan keadaan yang tetap antara pemasukan nutrien dan kebutuhan energi. Dengan bertambahnya usia, alur metabolik , neural, dan humoral yang secara normal dapat mempertahankan keseimbangan regulasi selera makan dan rasa lapar kehilangan keseimbangan responsibilitas untuk mengubah energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Keterkaitan psikologis, sosial ekononomi, dan kultural dan bermacam-macam penyakit memperberat disregulasi keseimbangan masukan energi.
c.       Perubahan patofisiologi yang menyebabkan kehilangan pengecapan lidah, penciuman, dan nafsu makan dengan bertambahnya usia. Perubahan besar fisiologik dan patologik yang terkait dengan usia mempunyai andil untuk seorang lansia kesulitan mempertahankan keseimbangan kebutuhan metabolik dan asupan nutrien. Penglihatan, penciuman, pengecapan, dan tekstur makanan mempunyai andil untuk keinginan makan dan dapat menstimulasi atau menghambat konsumsi berikutnya. Sistem sensor normal penting untuk menikmati makanan. Kemampuan mencium dan mengecap makanan merupakan unsur yang terpenting. Aroma makanan membangkitkan stimulasi selera makanan.
d.      Keterkaitan saluran cerna dan efek setelah absorbsi berpengaruh pada selera makan.
Perubahan kondisi usus dan hormon-hormonnya (misalnya kolesistokinin) mempunyai aandil dalam ketidakmampuan lansia. Makan dengan adekuat.
e.      Keterkaitan psikologis, sosial ekonomi, dan kultural dalam selera makan.
Seseorang dengan usia 60 tahun atau lebih, kebutuhannya akan faktor-faktor psikologis, sosioekonomi dan kultural penting untuk mempertahankan diet yang adekuat semakin meningkat. Depresi sering terjadi, tidak disadari dan merupakan penyebab penurunan nafsu makan yang dapat diobati dan harus selalu dipertimbangkan bila mengevaluasi penderita geriatri yang kehilangan berat badan. Dan keadaan ini sulit diprediksi bila penderita tersebut mengalami sakit berat atau demensia. Demikian juga kesedihan berhubungan dengan nafsu makan. Kemiskinan, pendidikan yang rendanh, mobilitas terbatas, ketergantungan pada orang yang menyuapi dan isolasi sosial merupakan faktor resiko yang penting. Untuk lansia yang sehat makan sendirian akan berhubungan dengan asupan yang kurang dibanding bila mereka makan bersama-sama. Bila berada di panti atau nursing home, lingkungan sekitar berefek pada selera makan.
                Selama malnutrisi semua organ kecuali otak menampakkan penurunan massa. Adanya  katabolisme dari stress akan terjadi penurunan lebih cepat lean body mass yang mengeluarkan asam amino untuk glukoneogenesis dan sintesis protein untuk tubuh misalnya untuk sistem imunitas dan luka-luka. Akhirnya protein visceral juga berkurang yang memyebabkan penurunan kapasitas menahan stress dan penurunan respon imunitas serta penurunan resistensi terhadap infeksi.

6.       IMPOTENSI
Impotensi atau Disfungsi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan secara konsisten untuk mencapai dan atau mempertahankan ereksi sedemikian rupa sehingga mencapai aktivitas seksual yang memuaskan. (Vinik, 1998). Secara umum impotensia dibedakan menjadi impotensia coendi (ketidakmampuan untuk melakukan hubungan seksual), impotensia erigendi (tidak mampu ber-ereksi) dan impotensia generandi (tidak mampu menghasilkan keturunan). Prevalensi DE sekitar  52% pada pria di antara 40-70 tahun dan bahkan  lebih besar pada pria yang lebih tua.

Etiologi  impotensi atau disfungsi ereksi pada pria lansia
Secara garis besar DE dapat dibagi menjadi 2 bagian besar sebagai berikut:
1)      DE organik, sebagai akibat gangguan akibat gangguan endokrin, neurogenik, vaskuler (aterosklerosis atau fibrosis).
·         DE endokrinologik biasanya berupa sindroma ADAM (Androgen Deficiency in the Aging Male), yang merupakan hipogonadisme pada lansia. DE tipe ini disebabkan oleh gangguan testikular baik primer maupun sekunder. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan hiperprolaktinemia, hipertiroid, hipotiroid dan Cushing’s disease.
·         DE neurogenik dapat disebabkan oleh gangguan jalur impuls terjadinya ereksi. Lesi dilobus temporalis sebagai akibat trauma atau multiple scelrosis stroke, gangguan atau rusaknya jalur asupan sensorik misalnya pada polineuropati diabetik, tabes dorsalis atau penyakit ganglia radiks dorsalis medula spinalis, juga pada gangguan nervus erigentes akibat pasca prostatektomi total atau operasi rektosigmoid.
·         DE vaskuler merupakan DE yang paling sering pada lansia yang mungkin berhubungan erat dengan prevalensi penyakit aterosklerosis yang tinggi pada lansia. Gangguan aliran darah arteri ke korpus kavernosus seperti bekuan darah, aterosklerosis, atau hilangnya kelenturan dinding pembuluh darah dapat menyebabkan DE. Selain itu DE bisa terjadi pada penyakit Leriche, yaitu obstruksi di pangkal bifurkasio a. iliaka di daerah a.abdominalis. Serta penyakit Peyronie mengakibatkan pengisian darah tidak sempurna yang akan menyebabkan DE.

2)      DE psikogenik, sebelum ini selalu dikatakan sebagai penyebab utama DE, namun menurut penelitian hal ini tidak benar. Justru penyebab utama DE pada lansia  gangguan organik, walaupun faktor psikogenik ikut memegang peranan.  DE jenis ini yang berpotensi reversibel  potensial biasanya yang disebabkan oleh kecemasan, depresi, rasa bersalah, masalah perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan gagal dalam hubungan seksual.  
Selain yang telah disebutkan di atas, sekitar 25 % DE disebabkan oleh obat-obatan terutama obat antihipertensi ( Reserpin, ß blocker, guanethidin dan metildopa), alkohol, simetidin, antipsikotik, antidepresan, lithium, hipnotik sedatif, dan hormon-hormon seperti estrogen dan progesteron.



7.       IMPECUNITY
Menurut Darmojo, dkk (1999) akan adanya berbagai konsekuensi dari peningkatan jumlah penduduk lanjut usia menyangkut masalah kesehatan, ekonomi, serta sosial budaya yang cukup dari pola penyakit sehubungan dengan proses penuaan, seperti penyakit sehubungan dengan proses penuaan, seperti pnyakit degeneratif, penyakit metabolik, dan gangguan psiko-sosial.
Di negara2 maju, kebanyakan lansia hidup mandiri daam pengrtian hidup sendiri atau[un bersama pasangannya. Hanya sebanyak 5% yang hidup di institusi (panti jompo atau sejenisnya). Untuk mereka uyang berusia di atas 80 tahun dan masih dalam status menikah, terdapat lebih banyak pria daripada wanita. Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa di anata lansia yang hidup sendiri, kelompok wanita lebih banyak daripada pria (Tamher, 2009 ). Selanjutnya terdapat sekitar 65% lansia yang mengidap gangguan kronis atau kecacatan, hidup bersama seseorang yang merawatnya, sementara sisanya (35%) benar-benar hidup sendiri. Dari aspek ekonomi, wa;laupun telah banyak kebijakan yang dibuat untuk membantu lansia, namun dapat dikatakan bahwa kelompok ini paling rawan dibandingkan dengan mereka yang berusia muda (Tamher, 2009)
Lansia dengan tingkat income yang rendah akan sangat rawan, terutama jika dihadapkan dengan tingkat pengeluaran yang tinggi untuk kesehatan mereka (Tamher, 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar